Gegap gempita pernikahan Indonesia selalu mengakar dalam warisan budaya. Mulai konsep norma, kostum , sampai penganan yg tersaji. Kini, masih ada satu lagi eksotisme budaya yg merasukinya.

Melihat tren, mulai banyak pernikahan yg diselenggarakan pada situs-situs budaya. Gedung, aula hotel, dan tempat ibadah bukan lagi satu-satunya yg mampu menjadi saksi pengikatan janji kudus.

Pernikahan dengan konsep luar ruangan memang mulai menjamur. Lihat saja pernikahan Gading dan Gisel yang diselenggarakan di pinggir pantai Uluwatu, Bali. Eksotis, namun permanen khidmat

Adat setempat juga bisa dimanfaatkan. Contohnya, pernikahan syahdu Mick Jagger dan Jerry Hall di Bali, tahun 1990. Saat itu, ia menggunakan adat Hindu, lengkap dengan sentuhan itu pada busananya.

Tazbir, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemenparekraf mendukung dijadikannya daerah-daerah tertentu sebagai wedding destination. Warisan budaya tak lagi hanya akan menghiasi foto prapernikahan maupun bulan madu, melainkan juga turut mengukir kesan bahagia dari pasangan pengantin.

“Banyak heritage sites yang bisa dijadikan pilihan,” katanya pada VIVAnews, usai membuka acara Gebyar Pernikahan Indonesia di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta, Jumat, 18 April 2014.

Ia menilai, Indonesia menyimpan banyak potensi wisata daerah. Jika para sineas film bisa membidiknya sebagai lokasi syuting, seharusnya calon pengantin pun bisa memanfaatkan potensi-potensi itu.

“Menikah di pinggir pantai, di candi, bisa mulai dilakukan. Memang agak mahal, karena itu disukai orang asing. Tapi bukan berarti orang Indonesia sendiri tidak bisa,” katanya melanjutkan.

Ia mengakui, Kemenparekraf memang belum merilis brosur khusus soal daerah dan situs budaya mana saja yang bisa menjadi destinasi bagi pernikahan dan bulan madu. Namun, ia optimistis bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *