Mengumbar kasus eksklusif di social media tampaknya telah bukan lagi hal baru. Mulai dari sekadar keluh kesah soal pekerjaan hingga yg kini tengah banyak bertebaran, gundah pengguna social media mengenai status ?Single? Mereka.. Apakah si pengumbar gundah pada social media memang berniat buat mencari pasangan atau sekadar mencari perhatian lewat status yang mereka pasang?

Pasang Status Galau Di SOSMED, Cari Pasangan Atau Perhatian?

Pasang status gundah di social media, sekadar provokasi buat cari perhatian?

Buat engkau pengguna social media aktif, mulai berdasarkan Path, Facebook, & Twitter, niscaya sudah hapal berapa banyak foto meme & statement galau mengenai status ?Single? Yg bertebaran pada timeline setiap hari.

Sesekali memunculkan status bingung, mungkin mampu sebagai bahan lucu-lucuan bagi pengguna social media lain. Tapi, apabila setiap kali membuka social media kerap menemukan status

“Galau soal status single dan masalah pasangan yang justru terkesan malah mengasihani diri sendiri memang cukup sering kita lihat di berbagai social media belakangan ini. Tapi, apakah mereka (si pemasang) status memang benar-benar ingin mencari pasangan lewat posting-an galau mereka? Belum tentu. Ketika seseorang menyatakan dirinya ‘jomblo’ dan menjadikannya lucu-lucuan di social media apa yang bisa jadi mereka dapatkan? Bisa jadi ‘likes’, retweet, ‘laugh’, ‘repath’, ataupun ‘share’. Semua respon tersebut adalah bentuk lain dari perhatian. Artinya ketika mereka memasang status seperti itu mereka akan mendapat perhatian.

“Truk aja gandengan, masa kamu nggak?” atau “Sandal aja punya pasangan, nggak malu sama sandal?”, seberapa sering kamu melihat status semacam ini muncul di timeline kamu? Apa yang sebenarnya membuat seseorang justru merasa galau dengan kondisi ‘single’ mereka? “Keluarga memang sangat berpengaruh pada tingkah laku kita. Sikap keluarga santai dan sedikit “kolot” dalam menanggapi status ‘single’ memang memengaruhi sikap kita nantinya. Tapi, semua kembali lagi ke bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Jika lingkungan di sekitar mereka santai menghadapinya maka mereka pun juga akan bersikap lebih santai dan dewasa menanggapi status ‘single’ mereka. Tapi, jika lingkungan memberi tekanan, perasaan insecure pun bisa timbul yang pada akhirnya berujung pada status-status galau,” Ayoe menambahkan.

‘Single’ jadi pilihan atau “kutukan”?

“Bagaimana kita memandang diri sendiri yang akan membentuk opini diri apakah ‘single’ jadi pilihan atau mungkin takdir yang diberikan Tuhan. Jika memang yang menjadi fokus kita karier dan pendidikan dan selalu memandang positif terhadap apa yang terjadi pada dirinya, akan menganggap status ‘single’ adalah pilihan. Tapi, jika seseorang memiliki konsep diri negative, tidak pernah memandang baik pada setiap aktivitas yang ia lakukan maka dengan sendirinya ia akan terus mengasihani status ‘single’-nya dan merana-rana meratapi,” papar Ayoe.

Nah, Fimelova, dari semua paparan di atas, mana yang sesuai dengan dirimu? Apakah kamu termasuk orang yang insecure dengan statusmu?

%d blogger menyukai ini: