Resikonya Bila Telat Kawin

Terlalu fokus menggunakan pekerjaan mampu menciptakan seorang betah buat melajang, sampai-hingga lupa memikirkan hidup berkeluarga. Tidak perkara buat menentukan telat menikah, namun para pakar mengingatkan bahwa pilihan tadi bukan tanpa risiko.

Pernikahan dalam usia yang sudah nir muda membuat jarak usia antara seseorang memakai anaknya sebagai jauh. Kondisi ini, berdasarkan psikolog sanggup menghipnotis pola asuh yg dilakukan sang orang tua. Diperlukan penanganan ekstra ketika mengasuh anaknya kelak.

Ratih Zulhaqqi, M.Psi, seseorang psikolog anak

Ketika gap usia dengan anaknya terlalu jauh, Ratih mengingatkan bahwa orang tua cenderung lebih emosional dalam mengasuh anak. Dalam beberapa hal, sulit bagi mereka yang sudah telanjur berumur untuk mengimbangi anak-anak saat beranjak muda.

“Ini membuat orangtua kerap menganggap anaknya nakal, padahal saat itu anak sedang berada di tahap bermain,” kata Ratih seperti ditulis Selasa (29/7/2014).

Secara psikologis, tidak ada patokan yang baku tentang usia ideal untuk menikah dan punya anak. Namun pada usia 25 tahun diyakini seseorang sudah cukup matang secara mental untuk memikirkan hidup berumah tangga. Kalau memang sudah siap, tunggu apa lagi?

%d blogger menyukai ini: